Konsep 15 Minute City: Hidup Nyaman Tanpa Tua di Jalan

Konsep 15 Minute City: Masa Depan Kota Tanpa Macet atau Sekadar Utopia?

debatpublic-contournement-toulouse.org – Bayangkan sebuah pagi yang santai. Anda tidak perlu bergegas bangun subuh hanya untuk mengejar kereta yang sesak atau memanaskan mobil demi menembus kemacetan ibu kota yang “neraka”. Sebaliknya, Anda bangun dengan tenang, lalu berjalan kaki sepuluh menit ke kantor melewati taman yang asri. Anda bisa mampir sebentar ke kedai kopi favorit. Bahkan, di sore harinya, Anda bisa belanja sayur serta menjemput anak sekolah hanya dengan bersepeda santai. Semuanya ada dalam jangkauan, tanpa emosi, dan tanpa klakson yang memekakkan telinga.

Mungkin hal ini terdengar seperti mimpi di siang bolong bagi warga Jakarta atau Surabaya. Namun, para perencana kota di seluruh dunia sedang menggadang-gadang visi ini sebagai solusi pamungkas krisis perkotaan. Mereka menamakan visi ini sebagai konsep 15 minute city atau kota 15 menit. Ide radikal ini sebenarnya sangat sederhana: mengembalikan hakikat kota kepada manusianya, bukan kepada kendaraan bermotor.

Di era di mana istilah “tua di jalan” menjadi keluhan sehari-hari kaum pekerja, tawaran gaya hidup ini terdengar sangat menggoda. Namun, apakah kita benar-benar bisa menerapkan konsep ini di tengah semrawutnya tata ruang kita? Ataukah konsep ini hanya akan menjadi privilese bagi kawasan elit semata? Mari kita bedah lebih dalam mengenai tawaran revolusi urban ini.

1. Asal Mula Ide: Mengubah Cara Kita Memandang Waktu dan Ruang

Sebenarnya, ide agar orang hidup dekat dengan tempat kerjanya bukanlah hal baru. Sebelum Revolusi Industri, nenek moyang kita sudah hidup seperti ini di desa-desa. Namun, modernisasi memisahkan zona hunian, zona industri, dan zona komersial. Pemisahan inilah yang memaksa kita untuk melakukan perjalanan jauh setiap hari (komuting).

Profesor Carlos Moreno dari Sorbonne University, Paris, mempopulerkan kembali konsep 15 minute city secara masif pada tahun 2016. Idenya meledak ketika Wali Kota Paris, Anne Hidalgo, menjadikannya pusat kampanye politiknya. Moreno mengusulkan “Chrono-urbanism”, sebuah pendekatan yang mengukur kualitas hidup kota bukan dari seberapa cepat mobil bisa melaju, tapi dari seberapa banyak waktu luang yang warga miliki.

Filosofinya sederhana: Warga kota seharusnya dapat memenuhi enam fungsi sosial utama—tinggal, bekerja, berbelanja, layanan kesehatan, pendidikan, dan hiburan—hanya dalam waktu 15 menit berjalan kaki atau bersepeda dari tempat tinggal mereka. Tujuannya adalah mendesentralisasi kota. Tidak ada lagi satu pusat kota yang padat; sebaliknya, setiap lingkungan menjadi pusatnya sendiri.

2. Enam Pilar Kehidupan dalam Jangkauan Langkah Kaki

Sering kali, orang salah paham bahwa konsep ini berarti “mengurung” orang di lingkungannya. Padahal tidak demikian. Konsep ini adalah tentang aksesibilitas.

Bayangkan Anda tinggal di sebuah distrik dengan fasilitas berikut:

  • Living (Hunian): Rumah yang layak dan terjangkau.

  • Working (Pekerjaan): Kantor satelit atau coworking space dekat rumah, atau dukungan Work From Home (WFH).

  • Supplying (Logistik): Pasar segar, supermarket, dan toko kelontong ada di ujung jalan.

  • Caring (Kesehatan): Anda bisa menjangkau klinik dokter gigi atau puskesmas tanpa naik taksi.

  • Learning (Pendidikan): Sekolah anak cukup dekat sehingga mereka bisa berjalan kaki dengan aman.

  • Enjoying (Hiburan): Taman kota, bioskop, atau pusat olahraga tersedia di lingkungan.

Dalam kerangka konsep 15 minute city, perencana kota mengubah jalan raya yang tadinya penuh aspal untuk mobil menjadi jalur hijau untuk pejalan kaki dan pesepeda. Mereka mengganti beton dengan pepohonan untuk menurunkan suhu kota. Ini adalah pergeseran prioritas dari mobilitas (seberapa jauh kita bisa pergi) ke aksesibilitas (seberapa mudah kita mendapatkan apa yang kita butuhkan).

3. Dampak Nyata: Kesehatan Mental dan Lingkungan

Mengapa dunia tiba-tiba terobsesi dengan ide ini? Jawabannya ada pada data. Studi menunjukkan bahwa waktu perjalanan (commuting time) berbanding lurus dengan tingkat stres dan risiko penyakit jantung. Semakin lama Anda duduk di balik kemudi dalam macet, semakin rendah tingkat kebahagiaan Anda.

Dengan menerapkan konsep 15 minute city, kota dapat menekan emisi karbon secara drastis karena ketergantungan pada kendaraan pribadi berkurang. Paris, sebagai contoh, telah menutup banyak jalan raya di tepi Sungai Seine dan mengubahnya menjadi taman. Hasilnya? Kualitas udara membaik dan ruang interaksi sosial warga meningkat.

Selain itu, ada dampak ekonomi lokal. Ketika orang berjalan kaki, mereka cenderung berbelanja di toko-toko kecil tetangga (UMKM) dibandingkan pergi ke hypermarket besar yang jauh. Kebiasaan ini menciptakan perputaran ekonomi yang lebih sehat dan merata di level komunitas.

4. Tantangan Besar: Apakah Bisa Diterapkan di Indonesia?

Nah, di sinilah realita pahit menampar kita. Menerapkan konsep ini di kota-kota Indonesia seperti Jakarta, Bandung, atau Medan bukanlah perkara mudah. Tantangan utamanya adalah infrastruktur dan zonasi yang sudah terlanjur “salah kaprah” selama puluhan tahun.

Sering kali, pengendara motor menggunakan trotoar sebagai tempat parkir atau pedagang menggunakannya sebagai lapak jualan. Hal ini membuat pejalan kaki tidak nyaman dan tidak aman. Belum lagi faktor cuaca tropis yang panas dan lembap. Kondisi ini membuat ide berjalan kaki 15 menit ke kantor terdengar melelahkan bagi sebagian orang tanpa adanya peneduh pohon yang memadai.

Namun, hal itu bukan berarti mustahil. Pemerintah sedang gencar membangun konsep Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun MRT dan LRT Jakarta sebagai langkah awal. Tantangannya adalah memastikan bahwa kawasan di sekitar stasiun tersebut memiliki fasilitas campuran (mixed-use), bukan hanya apartemen mewah yang kosong.

5. Kontroversi dan Teori Konspirasi yang Aneh

Menariknya, saat Inggris mulai mengadopsi konsep 15 minute city (seperti di Oxford), muncul gelombang protes. Sebagian kelompok masyarakat menganggap ini adalah upaya pemerintah untuk membatasi kebebasan bergerak, mirip dengan lockdown saat pandemi. Mereka percaya teori konspirasi bahwa pemerintah akan mendenda warga yang keluar dari zonanya.

Tentu saja, ini adalah kesalahpahaman besar. Konsep ini bukan tentang membangun tembok atau melarang orang bepergian jauh. Anda tetap bebas pergi ke mana saja. Poin utamanya adalah Anda tidak terpaksa pergi jauh hanya untuk membeli susu atau pergi ke dokter. Ini tentang memberi pilihan, bukan memberi batasan. Kebebasan sejati adalah saat Anda tidak terpaksa memiliki mobil untuk bisa hidup layak di kota.

6. Risiko Gentrifikasi: Kota 15 Menit atau Kota Eksklusif?

Kritik yang lebih valid dan berdasar datang dari para sosiolog. Ada kekhawatiran bahwa konsep 15 minute city hanya akan memicu gentrifikasi. Ketika sebuah lingkungan menjadi sangat nyaman, hijau, dan lengkap fasilitasnya, harga properti di sana pasti akan meroket.

Akibatnya, pasar akan meminggirkan warga asli berpenghasilan rendah ke pinggiran kota yang minim fasilitas. Sementara itu, hanya orang-orang kaya yang menghuni kawasan “15 menit” tersebut. Inilah yang harus diwaspadai oleh pemerintah kota. Penerapan konsep ini harus sejalan dengan kebijakan perumahan rakyat yang terjangkau. Dengan demikian, kenyamanan hidup tidak hanya menjadi milik segelintir elit.

7. Melangkah ke Depan: Perubahan Dimulai dari Hal Kecil

Kita tidak harus menunggu perombakan total dari pemerintah untuk mewujudkan kota ideal ini. Perubahan gaya hidup masyarakat juga berpengaruh. Tren Work From Home (WFH) pasca-pandemi sebenarnya telah secara tidak sadar mendekatkan kita pada gaya hidup ini. Kita mulai lebih sering makan siang di warung dekat rumah dan menghabiskan waktu di lingkungan sekitar.

Pemerintah daerah bisa memulainya dengan hal sederhana: memperbaiki trotoar, menambah lampu penerangan jalan, dan memperbanyak ruang terbuka hijau di setiap kelurahan. Jika berjalan kaki menjadi aktivitas yang menyenangkan dan aman, secara otomatis budaya berkendara akan berkurang.


Konsep 15 minute city bukanlah tongkat sihir yang bisa menyulap kemacetan Jakarta hilang dalam semalam. Namun, ia menawarkan sebuah cetak biru (blueprint) baru tentang bagaimana seharusnya kita hidup. Sudah terlalu lama kita menormalisasi penderitaan di jalan raya sebagai bagian dari “perjuangan hidup”.

Saatnya kita bertanya kembali: Apakah kita membangun kota untuk mobil, atau untuk manusia? Jika jawabannya adalah manusia, maka mendekatkan fasilitas hidup ke depan pintu rumah adalah langkah paling logis yang harus kita ambil. Mungkin kita belum sampai di sana, tapi setidaknya kita tahu ke arah mana kita harus melangkah.